Rest is not idleness, and to lie sometimes on the grass under trees on a summer’s day, listening to the murmur of the water, or watching the clouds float across the sky, is by no means a waste of time.” -John Lubbock
“Istirahat bukanlah kemalasan. Sesekali berbaring di rerumputan di bawah pepohonan pada suatu hari di musim panas, mendengarkan gemercik air, atau memandangi awan yang berarak di langit, sama sekali bukanlah hal yang sia-sia.”
Beristirahat dari rutinitas, bukanlah dosa. Kita terkadang lupa bahwa kita adalah bagian dari alam, yang sesekali perlu mendengar nyiur kelapa, desir angin fajar, gemercik sungai, atau bisik rumput yang mengundang kita untuk merebahkan diri di pangkuannya.
Ketika kita mulai merasa pening, tidak bersemangat, ingin rebahan 24 jam, tandanya kita sedang butuh bertemu alam. Sebut saja healing. Lalu, kita mulai bertanya-tanya, “Mau ke mana, nih?” Kita buka sosial media, beralih ke mesin pencarian, hingga akhirnya bertemu dengan Taman Sendang Bandung.
Taman Sendang Bandung, yang terletak di Moyudan, Sleman, adalah tempat yang menarik untuk menghabiskan waktu bersama alam. Di gang masuk, kita akan disambut oleh julur-julur bambu yang saling silang bak gerbang natural. Sesampainya di lokasi, kita disuguhkan beberapa pilihan: lesehan di permadani rumput di tepi air mancur, duduk-duduk di joglo khas Jogja, atau nongkrong di gazebo-gazebo kayu. Jika masuk lebih dalam, kita akan diperdengarkan riak tenang aliran sungai.
Sungai di Taman Sendang Bandung dulunya digunakan sebagai penggerak pembangkit listrik tenaga air. Dari pembangkit listrik inilah rumah-rumah sekitar mendapatkan penerangan. Sayangnya, pembangkit listrik dan bendungan yang mendukungnya lekang oleh waktu dan banjir. Begitu pula dengan jembatan yang menghubungkan bagian taman dengan pusat sendang.
Sendang—atau kolam mata air—yang menjadi jantung Desa Wisata Taman Sendang Bandung terletak di seberang sungai. Saat ini, area tersebut belum dapat diakses wisatawan. Namun, pengelola sedang mengusahakan agar jembatan bisa segera dibangun ulang sehingga keindahan Sendang Bandung dapat segera dibagikan pada dunia.
Bicara soal Sendang Bandung, ada kisah menarik yang layak diceritakan. Konon, sendang ini merupakan saksi bisu perjuangan Pangeran Diponegoro dan pasukannya di masa Perang Jawa. Sendang ini menjadi tempat peristirahatan di mana para pejuang kemerdekaan memberi minum dan memandikan kuda. Letak sendang yang strategis, tersembunyi di balik teguh benteng pohon dan bayang kanopi alam, memberikan rasa aman pada para pejuang. Hingga sekarang, kisah bersejarah itu dikenang oleh masyarakat melalui kegiatan budaya, misalnya Upacara Ngombekake Jaran.
Selain para pejuang kemerdekaan, ketenangan sendang juga menjadi kawan para empu yang melestarikan kerajinan keris Mataram. Kesejukan air sendang secara simbolis dianggap sebagai komponen yang penting dari proses penempaan keris. Sebagai penghormatan terhadap para pejuang kebudayaan ini, masyarakat menggelar Kirab Tirta Besalen. Inti dari kirab ini yakni mengambil air dari sendang, kemudian mengaraknya dengan meriah untuk dipersembahkan kepada para empu.
Masih banyak hal menarik lain yang dapat dan akan dapat kita nikmati di Desa Wisata Taman Sendang Bandung. Di detik ini pun, para perintis dan pengelola mungkin sedang mendiskusikan inovasi. Barangkali, sudah saatnya kita berkemas, menyiapkan bekal, dan memeriksa bagian paket wisata di sini. Mungkin saja sudah ada kebaruan yang menanti kita